Menelisik Resonansi Imaji dari Beragam Karya Fotografi

Oleh: Kusrini, S.Sos., M.Sn.

Sebuah karya foto dapat dilihat melalui dua perspektif yaitu fotografer dan pemirsa. Seperti sebuah kalimat yang sering diatribusikan dengan Ansel Adams “there are two people in every photograph: the photographer and the viewer”. Kalimat tersebut secara umum bisa dipahami bahwa terkait karya fotografi, maka fotografer maupun pemirsa (khalayak) memiliki kuasa masing-masing terhadap imaji foto. Dalam menciptakan karya, fotografer rmemiliki tujuan dan maksudnya sendiri. Sedangkan saat foto disajikan maka pemirsa juga memiliki penafsiran terhadap apa yang dilihatnya, yang bisa saja berbeda sepenuhnya dari fotografer. Meskipun demikian, perbedaan tersebut justru bisa memunculkan dialog tentang subjek foto, secara lebih luas diharapkan bisa menghasilkan resonansi seni dengan efek positif bagi fotografer dan pemirsa foto.

Karya-karya fotografi yang disajikan dalam pameran Jalan Menuju Media Kreatif #17 menunjukkan jejaring yang luas, baik geografi negara maupun latar belakang peserta pameran. Secara umum foto-foto yang ditampilkan dapat dilihat dari cara penyajian dan ide/gagasan yang diusung. Pada penyajian karya terdapat dua wujud penyajian yaitu cetak foto digital dan mix-media. Jenis material cetak dan ukuran disesuaikan dengan ide atau gagasan karya.

Karya berjudul “Aquarian comes and breaks all the supressed sage” dipresentasikan dalam bentuk instalasi digital foto dan audio. Karya tersebut merupakan bagian dari riset Vanda Túri tentang kematian di rumah sakit. Lanskap suara diciptakan untuk memperkuat suara kematian yang memudar dan tidak terdengar. Perpaduan suara dengan visual foto menghasilkan pengalaman melihat dan “mendengarkan” imaji fotografis dalam perspektif berbeda.

Selain pada penyajian karya, keragaman foto tersirat juga dari ide atau gagasan fotografer. Pemikiran yang mendasari terciptanya karya menunjukkan adanya dialog dengan diri sendiri atau dengan lingkungan,-baik sosial maupun fisik. Hal-hal yang menjadi perhatian, kekhawatiran, perenungan, maupun minat personal fotografer sebagai seniman, menjadi ide dalam perwujudan visual foto. 

Karya Irwandi & tim berjudul M·AGRIPPA·L·F·COS·TERTIVM·FECIT dengan metode albumen dengan gold toning dan foto berjudul 241 karya Argam Beta Ashifto Backtiar teknik cyanotype, merupakan contoh foto-foto dengan ide tentang cetak tua di abad ke-19. Teknik cetak tua memerlukan proses manual untuk mendapatkan imaji visual foto sehingga diperlukan minat khusus untuk membuatnya.

Perpaduan fotografi dengan teknologi kecerdasan buatan menjadi gagasan untuk foto karya Agus Setiawan Fazry yang berjudul Shield – Coastal. Karya ini memadukan teknik fotografi dengan algoritma artificial intelligence (AI) untuk mewujudkan imaji visual produk jam tangan. Pengolahan teknologi yang tepat menghasilkan foto dengan daya rayu kuat untuk kepentingan komersial.

Respon terhadap kondisi sosial di Indonesia dapat dilihat dari karya Pamungkas Wahyu Setiyanto dalam Amok 2025. Foto dibuat menggunakan teknik multilayer untuk menghadirkan berbagai elemen simbolik dalam narasi yang kompleks tentang kondisi sosial yang bergejolak. Dari gerhana bulan merah darah, siluet Batara Kala sebagai sosok mitologis, hingga bendera manga One Piece, dikomposisikan dengan warna gelap dibalut merah pekat menghasilkan imaji foto sarat makna. Karya ini bisa dimaknai sebagai kritik sosial yang direpresentasikan melalui karya seni fotografi.

Resonansi seni yang terjalin dalam karya fotografi tersebut memperdengarkan ide/gagasan peserta yang beragam namun selaras. Kesamaan frekuensi sebagai syarat terjadinya resonansi bukan berarti semua foto memiliki karakter subjek visual sama namun terletak pada pemahaman fotografer dalam memahami untuk apa karya dibuat, bagaimana keterkaitan foto dengan dirinya dan hal apa yang menjadi perhatian kemudian dituangkan dalam foto. Apapun ide/gagasan yang disampaikan seniman (fotografer) diharapkan menimbulkan getaran gelombang perhatian pada sisi khalayak pemirsa terhadap ide/gagasan foto sehingga resonansi aksi berkelanjutan muncul sebagai dampak positif yang diharapkan.

Bantul, 15 Oktober 2025