Pertautan: Menggaungkan Sinergi Seni dan Ekosistemnya

Oleh: Dr. Lucia Ratnaningdyah Setyowati, S.I.P., M.A.

Setiap entitas selalu hadir dalam ruang yang melingkupinya. Dalam ruang itu berbagai elemen ikut menjadi ada. Seni hadir di antara elemen-elemen yang melingkupinya dan menjadi ada oleh keberadaan sekitarnya. Seni bisa sangat piawai berkomunikasi dan merespon lingkungannya sehingga menghasilkan pertautan pada keberadaan keduanya.


Pameran ini berupaya mengumandangkan rekaman kolaborasi di atas, bagaimana seni menangkap dan merespon ekosistemnya, menjadi rekaman reflektif bagi kehidupan serta bagaimana ekosistem memberi daya hidup pada seni sehingga keduanya saling menggetarkan resonansi untuk menjadi semakin ada. Ada dalam arti survive, atau ada dalam arti semakin berarti.


Seni yang merekam geliat masyarakat dalam merespon kesewenang-wenangan, dan angkara kekuasaan di ruang hidup, terlihat dalam film dokumenter Dago Elos : Perjuangan di Tanah Sendiri, serta film cerita/fiksi: The Last Recorder, dan Amara. Bahkan geliat kecil dari sikap dan perilaku masyakarat dalam berinteraksi di antara mereka tak luput dari tangkapan naratif seni dalam film pendek Tumbas, Estafet, Bendera Putih, dan Apem Pak Sugeng serta Screenplay Series Dagelan Jowo Lucu – episode : Keblinger. Beberapa sentuhan kejenakaan yang mewarnai menjadi otokritik reflektif, mengajak menertawakan kita sendiri, dengan harapan menjadi lebih baik.


Catatan visual atas pilihan hidup seperti Film Cerita/Fiksi: Where the Blues Meet the Tide dan film documenter It’s just a Piece of Cloth atau perjuangan hidup dalam Cooking Mama, serta fase hidup dalam Generation Under Pressure mengajak kita mengarsipkan fenomena kehidupan yang sangat berarti dan tak kan menghasilkan pelajaran hidup, jika dibiarkan berlalu begitu saja. Kemasan feature membuatnya menjadi sajian yang segar.


Peran konservator juga menjadi gaung kehadiran seni saat mendokumenkan Dukun Beranak : Sebelum Tangisan Pertama catatan atas pernah eksisnya peran penjaga kehidupan di masyarakat, serta Wayang Beber Pancasila, buah tradisi yang justru menjadi pemantik inovasi.
Seni film sering menyandarkan kolaborasi bahasa visual dan suara, namun kolaborasi tidak selalu berarti kedua pihak hadir dalam porsi yang sama, kolaborasi yang diaransemen dengan menyediakan porsi yang pas bisa menghadirkan kekuatan lebih, seperti pada Film Cold Burn yang menghadirkan kekuatan keheningan daripada kata-kata dalam sebuah relasi manusia, adalah pantulan dari relasi itu sendiri, yang tidak harus riuh tetapi dalam.


Resonansi juga hadir dari kolaborasi elemen seni pertautan antara getaran visual dan audio dalam porsi komposisi apik, yang hadir pada karya-karya ekperimental dan video seni. Ini tampak dalam karya animasi stop motion yang dihasilkan dari konstuksi set pada Egy sárga folt. Resonansi serta pendaran elemen-elemen nirmana yang menghasilkan imaji visual ekspresif dan bermakna hadir pada video seni Interwoven Confluences dan The Cell.


Penghujung kata, semoga delapan belas karya yang disajikan dalam pameran ini, beresonansi di benak pemirsa dan memantik kolaborasi-kolaborasi indah nan berdaya pada karya seni berikutnya, serta pemirsa dan lingkungan sekitarnya. Salam.

Yogyakarta, 15 Oktober 2025