Demokrasi dan Negosiasi Seni Fotografi di Era AI

oleh : Novan Jemmi Andrea

Belakangan, terjadi pergeseran di bidang fotografi. Pergeseran itu disebabkan oleh teknologi Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang sungguh dapat menfasilitasi orang-orang untuk mewujudkan ide-ide abstrak yang mungkin sebelumnya sulit diwujudkan. Persoalannya, hal itu memunculkan pro dan kontra. Dalam banyak diskusi, dukungan dan penolakan menyinggung dimensi orisinalitas yang juga berkaitan dengan hak cipta, kreativitas, dan lunturnya praktik tradisional berkesenian.

Fotografi, barangkali adalah bidang yang paling terancam oleh invasi AI. Jika tujuan utamanya hanya untuk menciptakan rekaman imaji yang indah, maka AI sanggup menawarkan hasil yang luar biasa indahnya. Jika tujuan utamanya menghasilkan foto yang surealis, maka AI bisa mengungguli. Seperti yang saya singgung di akhir paragraf pertama, AI mampu mengubah praktik penciptaan seni fotografi.

Ilustrasi di atas saya gunakan untuk mengantarkan gagasan yang saya jalankan saat  mengkurasi karya fotografi untuk pameran Jalan Menuju Media Kreatif (JMMK) #16. Mengusung tema The Artistic Reflection of Recorded Media Art in the Artificial Intelligence Era, saya memandang JMMK #16 sebagai sarana untuk menyajikan demokrasi berkesenian di bidang fotografi. Praktif fotografi, baik yang tradisional (merujuk pada penggunaan kamera untuk menghasilkan citra dan intervensi keterampilan editing) maupun yang non tradisional (merujuk pada pemanfaatan AI untuk menghasilkan karya) dipertemukan dalam ruang yang sama. Derajat karyanya mungkin berbeda, namun dari sinilah sesungguhnya negosiasi estetis perlu dibicarakan.

Dalam pameran ini, ada 12 karya mahasiswa Program Studi (Prodi) Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam (FSMR), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, 12 karya dosen Prodi Fotografi, FSMR, ISI Yogyakarta, 2 karya kolega dalam negeri, dan 31 karya kolega Prodi Fotografi dari berbagai perguruan tinggi di luar negeri. Dari jumlah tersebut, sebenarnya kebanyakan fotonya diproduksi dengan praktik tradisional. Perbandingannya dengan karya yang dibuat dengan AI sangat kontras. 

Kecenderungan ini seolah-olah menjadi antitesis atas perdebatan invasi AI di bidang fotografi. Meskipun pameran ini menyediakan ruang bagi aktivitas kreatif dengan menggunakan teknologi AI, namun nyatanya kebanyakan masih memilih melakukan praktik tradisional. Secara formal, karya yang dihasilkan dari kedua jenis praktik itu tetap dapat dinikmati. Perbedaan yang paling nampak, sementara ini hanya dari keluasan representasi imajinasinya saja. Bagi saya, Fenomena ini menjadi alarm agar tidak segera resisten terhadap perubahan teknologi. Sebaliknya, penerimaan yang lebih lentur dengan memberikan ruang bagi potensi teknologi kecerdasan buatan, mungkin justru harus dilakukan. Saya memandang AI sebagai mitra untuk memupuk curiosity dan menumbuhkan imajinasi. Dengan demikian, eksplorasi artisitik di bidang fotografi akan semakin luas dan menjangkau ruang-ruang yang sebelumnya tidak terjangkau. Harapannya, kolaborasi ini dapat menyulut konstruksi estetika atas karya-karya fotografi di era kecerdasan buatan.