Sambutan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
Pada Pembukaan Pameran dan Penayangan Karya Seni Media Rekam
Dalam Rangka Dies Natalis ke-42 Institut Seni Indonesia Yogyakarta
“Narrating Humanity: Kesadaran Sosial dan Kreativitas Seni Media Rekam di Era Artificial Intelligence”
20–26 Juni 2026
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan,
Salam Budaya.
Yang saya hormati jajaran pimpinan Institut Seni Indonesia Yogyakarta; para Wakil Rektor, para Dekan, Direktur Program Pascasarjana, Ketua Lembaga, Kepala Biro, dan seluruh jajaran pimpinan di lingkungan ISI Yogyakarta; yang saya hormati Tim Kurator Pameran; para dosen, mahasiswa, seniman, tenaga kependidikan, mitra, sponsor, tamu undangan; serta seluruh sivitas akademika ISI Yogyakarta yang saya banggakan.
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat hadir dalam pembukaan Pameran dan Penayangan Karya Seni Media Rekam dalam rangka Dies Natalis ke-42 Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan tema “Narrating Humanity: Kesadaran Sosial dan Kreativitas Seni Media Rekam di Era Artificial Intelligence”.
Saya menyambut baik penyelenggaraan kegiatan ini. Bagi ISI Yogyakarta, Dies Natalis bukan sekadar momentum peringatan usia institusi. Dies Natalis adalah ruang refleksi, ruang evaluasi, sekaligus ruang untuk menegaskan arah masa depan. Pada usia ke-42 ini, ISI Yogyakarta terus berupaya memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya melahirkan karya, tetapi juga menghadirkan pemikiran, nilai, dan keberdampakan bagi masyarakat.
Tema besar Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta, “Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan, dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence”, memperoleh perluasan makna yang sangat relevan melalui tema Fakultas Seni Media Rekam, yaitu “Narrating Humanity”. Tema ini mengingatkan kita bahwa di tengah percepatan teknologi, tugas seni media rekam bukan hanya merekam apa yang tampak, tetapi juga membaca apa yang sering tersembunyi; bukan hanya menangkap gambar, tetapi juga menangkap denyut kehidupan; bukan hanya menghasilkan visual yang indah, tetapi juga menghadirkan kesadaran sosial, empati, dan narasi kemanusiaan.
Kita hidup pada zaman ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berkembang sangat cepat. Hari ini, AI dapat membantu mengolah gambar, menyusun visual, memperbaiki suara, membaca pola, bahkan menghasilkan citra dan narasi baru dalam waktu yang sangat singkat. Kadang-kadang AI bahkan bekerja lebih cepat daripada kita mencari charger kamera atau menunggu proses render selesai. Namun, di balik kecepatan itu, ada pertanyaan penting yang perlu terus kita ajukan: apakah teknologi juga mampu memahami rasa, pengalaman, ingatan, luka, harapan, dan tanggung jawab kemanusiaan?
Di sinilah seni media rekam memiliki posisi yang sangat strategis. Fotografi, film, televisi, animasi, video, dan media digital tidak hanya menjadi perangkat dokumentasi, tetapi juga menjadi bahasa peradaban. Melalui seni media rekam, kita dapat melihat bagaimana manusia hidup, bekerja, berjuang, merayakan, kehilangan, dan berharap. Kamera bukan sekadar alat untuk membidik objek, melainkan jendela untuk memahami manusia. Lensa bukan hanya perangkat optik, tetapi juga cara pandang. Editing bukan hanya proses teknis, tetapi juga proses etik: memilih, menyusun, menimbang, dan bertanggung jawab atas makna yang disampaikan kepada publik.
Dalam konteks inilah kegiatan pameran dan penayangan karya seni media rekam ini menjadi penting. Kegiatan ini bukan semata-mata ruang presentasi karya, melainkan ruang dialog; ruang untuk mempertemukan kreativitas mahasiswa, dosen, alumni, seniman, akademisi, dan masyarakat; ruang untuk menguji sejauh mana seni mampu merespons perubahan teknologi tanpa kehilangan martabat kemanusiaannya; serta ruang untuk menunjukkan bahwa kemajuan teknologi harus selalu berjalan bersama kesadaran sosial.
Kita tentu tidak sedang menolak kecerdasan buatan. Sebaliknya, sebagai institusi pendidikan tinggi seni, kita harus terbuka, adaptif, dan kritis terhadap perkembangan teknologi. AI dapat menjadi alat bantu, mitra eksplorasi, bahkan pemantik gagasan baru. Namun, kita perlu terus menegaskan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan nurani. Mesin dapat membantu mempercepat proses, tetapi manusia tetap harus menentukan arah. Algoritma dapat menyusun kemungkinan, tetapi rasa, etika, empati, dan tanggung jawab tetap menjadi wilayah manusia.
Seni media rekam mengajarkan kita untuk melihat secara lebih cermat. Dalam dunia yang dipenuhi banjir gambar, kita dituntut bukan hanya mampu memproduksi visual, tetapi juga memiliki kepekaan untuk membedakan mana yang hanya menarik perhatian dan yang benar-benar memberi pengertian. Hari ini, ketika gambar dapat dibuat, disalin, disunting, dan disebarkan dalam hitungan detik, kemampuan membaca visual menjadi semakin penting. Di sinilah Fakultas Seni Media Rekam memiliki peran besar: membentuk insan kreatif yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga matang secara gagasan, kuat secara etik, dan peka terhadap realitas sosial.
Saya percaya masa depan seni media rekam akan semakin menentukan wajah kebudayaan kita. Dunia hari ini bergerak melalui gambar dan suara. Peristiwa sosial, ekspresi budaya, perubahan lingkungan, dinamika politik, kehidupan sehari-hari, hingga ingatan kolektif masyarakat banyak hadir melalui medium rekam. Karena itu, para pelaku seni media rekam memiliki tanggung jawab yang besar. Setiap frame membawa pilihan. Setiap sudut pandang membawa konsekuensi. Setiap karya tidak hanya membawa peluang untuk membangun kesadaran, tetapi juga membawa tanggung jawab untuk tidak mereduksi manusia hanya menjadi objek visual.
Melalui kegiatan ini, saya berharap Fakultas Seni Media Rekam terus menjadi ruang akademik dan kreatif yang berani membaca zaman; tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memberi arah; tidak hanya menggunakan perangkat terbaru, tetapi juga mengembangkan kepekaan terdalam; tidak hanya menghasilkan karya yang menarik secara visual, tetapi juga mampu menggerakkan pikiran, menyentuh perasaan, dan membuka percakapan yang bermakna.
Saya juga berharap kegiatan ini dapat memperkuat ekosistem kolaborasi di ISI Yogyakarta. Pameran, screening film, simposium, workshop, keynote lecture, dan layar tancap yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa seni media rekam adalah medan yang terbuka. Ia dapat mempertemukan kampus dengan masyarakat, mahasiswa dengan seniman, akademisi dengan praktisi, serta gagasan lokal dengan percakapan internasional. Inilah semangat kampus seni yang kita butuhkan: kampus yang hidup, terbuka, reflektif, dan terus bergerak bersama masyarakat.
Kepada para mahasiswa, saya ingin menyampaikan bahwa masa depan ada di tangan Saudara. Kuasai teknologi, pelajari perangkat baru, pahami AI, dan jelajahi kemungkinan media digital. Namun, jangan lupa bahwa karya yang kuat bukan hanya lahir dari alat yang canggih. Karya yang kuat lahir dari kepekaan melihat, keberanian berpikir, kedalaman riset, dan ketulusan untuk memahami manusia. Kamera terbaik tetap membutuhkan mata yang jujur. Perangkat lunak terbaik tetap membutuhkan gagasan yang matang. Teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia yang tahu untuk apa ia berkarya.
Kepada para dosen, seniman, alumni, dan seluruh mitra yang terlibat, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya. Terima kasih atas kerja, dedikasi, dan kontribusi dalam menghadirkan kegiatan ini. Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Dekan Fakultas Seni Media Rekam, panitia, kurator, pengelola program, narasumber, pemateri, dan seluruh pihak yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa FSMR, ISI Yogyakarta terus bergerak sebagai ruang pendidikan, penciptaan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang relevan dengan perkembangan zaman.
Akhirnya, semoga Pameran dan Penayangan Karya Seni Media Rekam ini tidak hanya menjadi perayaan karya, tetapi juga perayaan kesadaran. Semoga kegiatan ini memperkuat keyakinan kita bahwa seni tetap memiliki peran penting dalam menjaga kemanusiaan di tengah perubahan teknologi. Semoga dari ruang ini lahir karya-karya yang bukan hanya indah dilihat, tetapi juga penting untuk dipikirkan; bukan hanya kuat secara visual, tetapi juga jernih secara nilai; bukan hanya berbicara tentang masa kini, tetapi juga memberi arah bagi masa depan.
Dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, saya menyampaikan selamat atas terselenggaranya Pameran dan Penayangan Karya Seni Media Rekam dalam rangka Dies Natalis ke-42 Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Selamat berpameran, selamat menayangkan karya, selamat merayakan kreativitas, dan selamat terus menarasikan kemanusiaan.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Om Shanti Shanti Shanti Om.
Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta,
Dr. Irwandi, M.Sn.
