Kesadaran Sosial dan Kreativitas Seni Media Rekam di Era Artificial Intelligence

Oleh: Pius Rino Pungkiawan

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah secara fundamental cara manusia memproduksi, mendistribusikan, dan mengonsumsi informasi visual. Di tengah transformasi tersebut, seni tidak lagi hanya berperan sebagai medium representasi, melainkan menjadi ruang refleksi kritis untuk mempertanyakan kembali posisi manusia dalam lanskap teknologi yang semakin kompleks. Tema Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta “Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan, dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence” mengajak kita meninjau ulang makna dampak seni pada masyarakat kontemporer. Dalam konteks tersebut, Program Studi Film dan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam menghadirkan tema turunan “Narrating Humanity: Kesadaran Sosial dan Kreativitas Seni Media Rekam di Era Artificial Intelligence”.

Tema ini berangkat dari keyakinan bahwa di tengah kemajuan teknologi kecerdasan buatan, kemampuan manusia untuk bercerita tetap menjadi fondasi utama peradaban. Narasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai mekanisme untuk membangun empati, mengartikulasikan pengalaman sosial, serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dapat sepenuhnya direplikasi oleh mesin. Seni media rekam menjadi arena penting untuk mempertemukan teknologi dengan pengalaman manusia yang bersifat personal, emosional, dan sosial.

Pameran ini menampilkan 22 karya yang terdiri atas 18 karya mahasiswa dan 4 karya dosen dalam berbagai bentuk, yakni skenario film, film pendek fiksi, film dokumenter, film tari, dan video art. Keberagaman medium tersebut menunjukkan bahwa praktik seni media rekam tidak hanya berorientasi pada produk audiovisual semata, tetapi juga pada proses penciptaan gagasan, penyusunan narasi, hingga eksplorasi bahasa visual yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Mayoritas karya mahasiswa yang ditampilkan berupa film pendek fiksi, didampingi dua karya dokumenter yang merekam berbagai fenomena sosial di masyarakat. Karya-karya tersebut memperlihatkan bagaimana generasi muda memandang persoalan identitas, relasi sosial, keluarga, ruang hidup, serta berbagai perubahan budaya yang terjadi pada era digital. Melalui pendekatan naratif yang beragam, para mahasiswa tidak sekadar menghadirkan cerita, tetapi juga membangun ruang dialog antara pengalaman personal dengan realitas sosial yang lebih luas. Dalam konteks ini, film menjadi medium yang memungkinkan pengalaman manusia direfleksikan kembali secara kritis sekaligus emosional.

Sementara itu, karya-karya dosen memperlihatkan spektrum pemikiran dan praktik artistik yang memperkaya pembacaan terhadap tema pameran. Naskah film Hanya Perjalanan Waktu yang Terhenti karya Dyah Arum menghadirkan refleksi mengenai cinta, obsesi, dan kerentanan manusia dalam relasi interpersonal. Sebagai bentuk karya yang hadir dalam format skenario, karya ini mengingatkan bahwa narasi bermula dari gagasan dan imajinasi yang belum tentu membutuhkan visualisasi sempurna untuk menghadirkan daya gugah kemanusiaan. Di tengah berkembangnya teknologi generatif yang mampu menghasilkan citra dan cerita secara instan, karya ini menegaskan pentingnya kedalaman pengalaman emosional sebagai inti dari proses penciptaan.

Video art When the Earth Remember mengajak penonton meninjau kembali hubungan manusia dengan lingkungan dan memori ekologis yang terus tergerus oleh eksploitasi dan percepatan peradaban. Karya ini menghadirkan refleksi bahwa Bumi bukan sekadar ruang hidup, melainkan entitas yang menyimpan jejak-jejak tindakan manusia. Dalam konteks krisis lingkungan global, karya tersebut menggarisbawahi pentingnya kesadaran ekologis sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.

Film pendek FOTOME menyoroti persoalan yang semakin relevan pada era digital, yakni penyebaran citra tanpa persetujuan, pelecehan daring, dan krisis privasi di ruang publik virtual. Melalui kisah dua perempuan muda yang menjadi korban penyalahgunaan foto oleh komunitas fotografi lari, film ini memperlihatkan bagaimana teknologi yang semula diciptakan untuk mendokumentasikan aktivitas manusia dapat berubah menjadi instrumen kontrol, objektifikasi, bahkan kekerasan simbolik. Persoalan etika penggunaan media digital yang diangkat dalam karya ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi harus selalu disertai tanggung jawab moral dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Sementara itu, film tari Laku Linuwih karya Agnes Widyasmoro, Lilik Kustanto, dan Nanang R. Hidayat menghadirkan dimensi spiritual yang memperluas pembahasan mengenai kemanusiaan pada era teknologi. Melalui alegori perjalanan Sang Naga, Sang Garuda, dan Bethara Sramba, karya ini menawarkan refleksi mendalam mengenai ketakutan, pengetahuan, kebijaksanaan, dan pencarian makna hidup. Ketakutan yang dialami Sang Naga tidak semata-mata dimaknai sebagai ancaman eksternal, melainkan sebagai kondisi eksistensial manusia yang merasa terpisah dari pengetahuan dan kesadaran dirinya. Pertemuan dengan Bethara Sramba menghadirkan transformasi batin yang menuntun pada pemahaman bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan merupakan jalan untuk melampaui ketakutan. Pada akhirnya, karya ini mengarah pada konsep spiritual Jawa Manunggaling Kawula Gusti, sebuah gagasan mengenai penyatuan manusia dengan Sang Pencipta yang melampaui batas-batas ego dan keterpisahan. Dalam konteks era Artificial Intelligence, Laku Linuwih menawarkan perspektif penting bahwa kecerdasan manusia tidak hanya terletak pada kemampuan berpikir dan mencipta, tetapi juga pada kemampuan merefleksikan keberadaan, memahami nilai-nilai spiritual, dan menemukan kebijaksanaan dalam kehidupan.

Secara keseluruhan, karya-karya dalam pameran ini memperlihatkan bahwa seni media rekam memiliki kemampuan untuk menghadirkan narasi-narasi kemanusiaan yang beragam: dari relasi personal hingga persoalan sosial, dari isu lingkungan hingga refleksi spiritual. Berbagai karya tersebut menunjukkan bahwa teknologi, termasuk Artificial Intelligence, bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen yang dapat digunakan untuk memperluas kemungkinan kreatif sekaligus memperdalam pemahaman manusia terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya.

Melalui tema Narrating Humanity, pameran ini mengajak publik untuk merenungkan kembali pertanyaan mendasar: ketika mesin semakin mampu menghasilkan gambar, suara, bahkan cerita, apa yang membuat narasi manusia tetap penting? Jawabannya mungkin terletak pada kemampuan manusia untuk merasakan, berempati, mengingat, dan memaknai pengalaman hidupnya. Seni media rekam hadir sebagai ruang tempat pengalaman-pengalaman tersebut direkam, dipertanyakan, dan diwariskan. Dengan demikian, di tengah percepatan perkembangan Artificial Intelligence, seni tidak kehilangan relevansinya; justru menjadi semakin penting sebagai medium yang menjaga, merawat, dan merayakan kemanusiaan.