Judul: Cerita Sepanjang Jalan
Karya: Febfi Setyawati

Cerita Sepanjang Jalan adalah film dokumenter berdurasi 30 menit yang diproduksi dengan dukungan Dana Keistimewaan melalui Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. Film ini menyoroti sepotong kisah nyata dari Yogyakarta tentang perjuangan kasih sayang seorang ibu, Erni, dalam merawat putra semata wayangnya, Reno, yang hidup dengan kondisi Cerebral Palsy.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana Ibu Erni harus berhadapan dengan berbagai tantangan: aturan layanan kesehatan yang kerap berubah, keterbatasan finansial untuk menunjang biaya pengobatan, hingga minimnya akses transportasi publik untuk menuju ke rumah sakit yang ramah disabilitas. Di tengah keterbatasan tersebut, muncul secercah harapan melalui program gotong-royong warga berupa layanan ambulans gratis. Namun, layanan ini pun mengharuskan keluarga pasien untuk memesan jauh-jauh hari agar mendapatkan jadwal.
Lebih dari sekadar potret perjuangan individu, film ini ingin menghadirkan refleksi sosial: bagaimana komunitas berperan sebagai penopang di tengah kekurangan sistem, serta bagaimana kasih seorang ibu menjadi energi tak tergantikan dalam menghadapi rintangan hidup.
Harapannya, Cerita Sepanjang Jalan dapat membuka kesadaran publik tentang pentingnya aksesibilitas, keberpihakan kebijakan, dan solidaritas sosial dalam mendukung keluarga dengan anggota difabel. Film ini juga menjadi pengingat bahwa di balik setiap jalan penuh hambatan, ada cinta dan kebersamaan yang membuat langkah tetap berlanjut
.

Judul: Ikan Pangandaran
Karya: Heri Nugroho

Pangandaran merupakan salah satu Kabupaten di wilayah Provinsi Jawa Barat yang terletak di pesisir pantai selatan Jawa. Dari keuntungan geografis itulah Pangandaran memiliki ciri khas yang kuat dengan kekayaan alam laut dan pantai sebagai salah satu andalan sumber penghasilan utama daerah, yaitu dari aspek wisata laut dan penghasil ikan. Dari situlah maka icon kabupaten Pangandaran adalah Ikan yaitu Ikan Marlin yang sering dijumpai dalam bentuk Tugu dan bangunan-bangunan iconic lainnya ketika mengunjungi Pangandaran. Karya “IKAN PANGANDARAN” merupakan karya video yang berisi kompilasi video singkat sederhana dalam format konten Instagram. Melalui kolaborasi antara seni dan tren komunikasi media sosial mencoba mengangkat kekayaan Pangandaran dalam perspektif pengunjung/penikmat keindahan Pangandaran dengan tujuan mengajak para followers/penonton konten untuk ikut serta dalam keindahan Pangandaran dalam durasi-durasi singkat pada setiap kontennya sehingga dari perkenalan singkat membawa motivasi untuk mengenal dan menikmati Pangandaran lebih dekat dan langsung.

Judul: Eulogy
Karya: Zahrina Zatadini, Nanang Rakhmad Hidayat, Diyah Verakandhi


Karya ini merupakan eksplorasi penggunaan teknologi Virtual Reality (VR) sebagai medium penciptaan dan kolaborasi dalam konteks seni, khususnya pada praktik musik eksperimental, berangkat dari pertanyaan kritis mengenai urgensi penggunaan medium baru dalam praktik seni kontemporer, serta bagaimana teknologi VR dapat menjadi ruang pertemuan baru bagi pelaku seni lintas disiplin. Penonton mampu menjadi penonton (pasif), maupun partisipatif dalam karya seni ini untuk melihat dampak kolaborasi tidak hanya dalam konteks interdisiplin tetapi juga dalam konteks ruang, antara ruang realitas dan realitas virtual.
Karya ini diharapkan mampu menguraikan dampak estetis, sosial, dan kognitif dari praktik seni berbasis VR serta membuka refleksi tentang masa depan kolaborasi artistik dalam konteks realitas virtual
.

Judul: Tari Angguk: Jejak Warisan Seni Pertunjukan Kulon Progo
Karya: Arifa Khairianti


“Tari Angguk: Jejak Warisan Seni Pertunjukan Kulon Progo” menelusuri denyut kehidupan kesenian tradisi yang tumbuh di Kulon Progo, Yogyakarta. Melalui kisah Sanggar Sri Panglaras dan sosok pelestarinya, Ibu Sri Wuryanti, film ini menyoroti semangat inklusif anak-anak dan penyandang disabilitas yang terus menjaga Tari Angguk di tengah arus modernisasi. Diselingi pandangan akademik Prof. Dr. Kuswarsantyo, M.Hum, tentang sejarah dan makna tarian angguk menjadi identitas budaya masyarakat Kulonprogo. Sebuah potret ketekunan dan kebersamaan dalam merawat warisan seni tradisi agar tetap hidup lintas generasi.

Judul: Pari-Man si Anak Terkutuk
Karya: Beni Pusanding Tuah


Masih ingat kutukan seram anak durhaka jadi ikan pari tahun 90an? Kutukan Seram Anak Durhaka Paling Fenomenal dan Legendaris di Tahun 2000 an, Ikan pari dalam video yang viral di tahun 2000an diyakini perwujudan dari sesosok anak durhaka yang dikutuk karena menendang ibunya yang sedang sholat. Kemunculan video ini tentu membuat masyarakat Indonesia geger terutama anak-anak, apalagi dengan tambahan suara al-quran yang sedang dibacakan. Saking viralnya, video ini pernah dimasukan dalam kaset yang beredar tahun 2000an. Kemunculan video legendaris itu menginspirasi saya untuk menciptakan karakter baru perwujudan dari sang anak durhaka yang dikutuk oleh orang tuanya menjadi ikan pari. Ide ini sudah saya mulai cukup lama, sebab siapa lagi yang mau mengangkat legenda urban kalau bukan kita sendiri? Karakter yang terinspirasi ikan pari ini saya beri nama “PARIMAN si ANAK TERKUTUK”.

Judul: Ocean Tribute
Karya: Aditya Reza Bahari, Axel Muhammad El Fayyad, Barizy Tahrir Al Abqory, Nicholas Gaharu Satrio


Laut bergemuruh. Tubuh lemas diterjang angin selatan. Air laut merembes masuk ke dalam urat nadi yang menggigil. Seorang raja bangkit dengan kekuatan baru. Ritual labuhan pun terlahir sebagai bentuk rasa syukur. Para nelayan terus melanjutkan ritual ini. Sesaji demi sesaji larut dalam desiran ombak. Sampai suatu ketika seorang pemuda berdiri dengan angkuh. Sikap apatis manusia terhadap alam menyulut amarah laut. Ombak dihantamkan, tubuh bergerak tak terkendali. Terseret dalam pusaran hukuman alam, badannya terpelintir mengikuti irama pasang surut sebelum akhirnya hilang ditelan air.

Judul: 8 Hari dalam Seminggu
Karya: Diyah Verakandhi


Pasangan suami istri beserta 8 orang anaknya memutuskan meninggalkan hiruk pikuk perkotaan untuk tinggal ditengah hutan. Keputusan ini erat kaitannya dengan beberapa faktor spiritual, jasmani, dan bumi. Mereka beradaptasi dengan cepat dan tidak terlalu banyak halangan yang harus dihadapi. Mereka menjalani kesehariannya dengan banyak mendekat ke alam, seperti bercocok tanam dan berjalan kaki. Keseharian yang dilakukan mengajarkan mereka bagaimana menerapkan gaya bertahan hidup yang baru dan tetap dapat memperoleh kesenangan tanpa adanya perubahan di antara mereka.

Judul: Kronik Puriwicara
Karya: Riza Pahlevi


Dewi Kirana (P/27), anak kedua dari Raja Puriwicara ke XI (L/58), yang akan bertanding melawan adik kandungnya, Panji Wiratama (L/24), dalam sebuah pemilihan walikota di Kerajaan Puriwicara. Reza Mahardika (L/34), anak pertama raja, akan segera meninggalkan jabatan walikota, karena akan dilantik menjadi Putra Mahkota, dan sedang dipersiapkan untuk menjadi raja selanjutnya. Dewi mendapatkan tekanan dari Panji, yang membuatnya ragu untuk melanjutkan pencalonannya. Raja dan Reza pun juga berbeda pendapat terkait siapa yang pantas menjadi walikota. Apakah Dewi berhasil mengalahkan Panji dalam pemilihan walikota di Puriwicara?

PAMERAN VIRTUAL

FAKULTAS SENI MEDIA REKAM