KARYA KOLEGA LUAR NEGERI

Judul: Interwoven Confluences
Karya: Selçuk Artut (Turkiye)

Deskripsi:

In the precision of abstract structures, we find echoes of cultural memory, spiritual symbolism, and mathematical elegance. In this art piece, Interwoven Confluences, brings together two distinct yet harmoniously aligned geometric traditions—the Asanoha pattern from Japan and the Seljuk star patterns from Turkish cultural heritage.
The Asanoha, with its hexagonal, interlocking hemp leaves, has long symbolized resilience and growth in Japanese design. Meanwhile, Seljuk stars, constructed through intricate geometric principles, reflect an era where abstraction was embraced to convey metaphysical ideas. By merging these traditions within a creative coding framework, I seek to explore how geometric structures transcend time and geography, forming a universal artistic lexicon.

Judul:《由這片海浪開始》Where the Blues Meet the Tide
Karya: Ngai Kwok Yeung George School POC: Grace Tin (Hongkong)

Deskripsi:

Two girls who are having their own struggles, heal and support each other, rediscovering the wonders in their lives.

Judul: It’s just a Piece of Cloth
Karya: Eriqa Nayly Qistina Binte Imran (Singapore)

Deskripsi:

Documentary Short Film – It’s Just a Piece of Cloth is a reflective short documentary that explores the personal and cultural significance behind what many dismiss as an ordinary garment. Through intimate storytelling and visual detail, the film reveals how this piece of cloth embodies identity, faith, and resilience.

Judul: Generation Under Pressure
Karya: Kishin Ananta Nur (Singapore)

Deskripsi:

Documentary Short Film – Generation Under Pressure is a documentary short film that gives voice to the struggles of today’s youth as they navigate fears of failure, career uncertainty, and societal expectations. Through candid reflections, it reveals the weight of invisible pressures that shape their daily lives and decisions. The film captures a raw portrait of a generation searching for direction, resilience, and meaning under mounting demands.

Judul: Cooking Mama
Karya: Melody Wong Yee Ling, Muhammad Sufi Akram Bin Mohammad Shahdan, Muhammad Nur Fadzli Bin Zulqifflie, Tay Yao Feng, Dong Nuoyan (Singapore)

Deskripsi:

Documentary Short Film. -Cooking Mama is a heartfelt short documentary that follows the journey of a resilient mother of five whose love for cooking becomes her strength in the face of hardship. Living with limited resources and raising her family in unconventional spaces, she turns to the kitchen as a place of hope, creativity, and togetherness. Through every recipe and every meal, she proves that food is more than sustenance. It is resilience, love, and the power to overcome all odds.

Judul: The last recording
Karya: Robert Gombos (Romania)

Deskripsi:

The last recording

Judul: Cold Burn
Karya: Szász Tamara – University of Arts Targu Mures, Romania

Deskripsi:

Director Statement:
Fagykár/Cold Burn is a film about the quiet disintegration of a relationship – the moments that seem small on the surface but are charged with the unspoken, the unresolved. We wanted to tell a story that shows how silence can be as powerful as words, and how love can fade not with a loud crash, but in the weight of things left unsaid.
As co-directors, we come from different backgrounds – one from acting, the other from filmmaking – but we share a fascination with intimacy, vulnerability, and the invisible threads that connect people. Fagykár is our attempt to capture those fragile moments where everything can change, even when no one raises their voice.
We believe that film has the power to make visible what often remains unseen, to give space to stories that unfold quietly, yet leave a lasting impact.

Judul: Egy sárga folt
Karya: Molnár Csaba – Levente

Deskripsi:

From the very first frames, we are introduced to the visual world of a stop-motion animated film created within a physically constructed set. The animated character itself was painted onto a glass surface, creating the illusion of movement.

KARYA KOLEGA DALAM NEGERI

Judul: Dukun Beranak: Sebelum Tangisan Pertama
Karya: Cakti Rangga

Deskripsi:

Sebuah film dokumenter yang mengambil latar sebuah desa tenang di sudut Purwakarta, menggali makna mendalam tentang seseorang dibalik peran Dukun Beranak. Berusaha mematahkan stigma lama yang melabeli mereka sebagai sosok seram dan menakutkan. Melalui narasi yang penuh kelembutan, film ini menyoroti kehadiran dukun beranak sebagai penjaga kehidupan yang berperan dalam momen paling sakral manusia yaitu lahirnya kehidupan baru.

Judul: Bendera Putih
Karya: Budi Dwi Arifianto dan Citra Dewi Utami

Deskripsi:

Tirakatan yang merupakan kearifan lokal menjadi latar peristiwa warga Yogyakarta yang mengalami dilema. Bagaimana semangat guyub rukun mampu terus bergema dalam diri masyarakat sehingga membawa rasa empati. Kolaborasi menjadi jalan menuju keharmonisan. “Jogja, Jogja, tetap istimewa. Istimewa negerinya, istimewa orangnya”

KARYA CIVITAS PRODI FILM DAN TELEVISI

Judul: The Cell
Karya: M Rizky Kadafi

Deskripsi:

“Allah says, ‘And He it is Who shapes you in the wombs as He wills’ (QS. Ali Imran: 6). Each cell in our body undergoes metamorphosis, evolving and adapting to fulfill its vital role. This continuous transformation showcases the greatness of the Creator, who designs us with intention and love. In every change we experience, we are reminded to be grateful for the blessings of life and the extraordinary marvels of His creation.”

Judul: Dago Elos: Pejuangan Di Tanah Sendiri
Karya: Muhammad Aqshal Monda Ramadhan

Deskripsi:

Sejak 2016, warga Dago Elos menghadapi ketidakpastian atas tanah yang sudah mereka huni turun-temurun. Perjuangan mempertahankan rumah leluhur terus berlangsung, sementara nasib tanah mereka masih digantung hingga hari ini. Hal tersebut yang memotivasi kami untuk membuat film dokumenter ini dengan harapan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kasus mafia tanah.

Judul: Estafet
Karya: Lucia Ratnaningdyah Setyowati

Deskripsi:

Sebuah film yang mengambil premis tentang kewaspadaan untuk tidak mudah menyebarkan kabar yang belum terkonfirmasi kebenarnanya melalui media sosial. Film yang dimainkan oleh warga asli di sebuah perumahan ini bercerita tentang sebuah pemukiman yang dihebohkan oleh beredarnya kabar tentang adanya Bom yang dirakit di sebuah rumah warga. Kabar yang beredar dengan cepat melalui media sosial itu sempat menimbulkan kepanikan warga, namun akhirnya terkuak bahwa ternyata itu hanya kabar bohong akibat kesalahfahaman warga.

Judul: TUMBAS
Karya: Hendri Sulistyo

Deskripsi:

Suatu hari Banyu (10) dan Saka (10) secara bersamaan mendapatkan tugas dari ibu mereka masing-masing untuk membeli minyak dan garam. Warung langganan mereka tutup. Banyu dan Saka tidak punya pilihan selain “tumbas” ke warung Mbah Warno (60) yang terkenal galak. Akankah perjalanan “tumbas” Banyu dan Saka akan baik-baik saja?

Judul: AMARA
Karya: Achmad Junaidi

Deskripsi:

Amar (27) , buruh potong kayu, tanpa sengaja menghilangkan Kikir gergaji mesin , untuk menggantinya amar kikir di sebuah toko Bangunan, namun ketika ingin membayar dengan aplikasi qr ruhiyah (35) , Kasir toko meminta untuk bayar cash saja karena qr hanya untuk Transaksi di atas 100 rb, dengan kesal amar terpaksa keluar toko untuk Mencari atm mini, setelah mengantri di atm mini cukup lama amar Akhirnya bisa tarik tunai dengan saldo sisa dan hanya bisa di tarik 100 rb. Kemudian amar kembali lagi ke toko untuk membayar cash, namun kasir Menolak lagi karena tidak ada uang kembalian dari pecahan 100 rb, amar Mulai berdebat dengana ruhiyah, di tengah perdebatan ruhiyah berkata Dengan mengolok amar sangat bau badan, seketika perdebatan berhenti Karena amar menusuk leher ruhiyah dengan kikir yang hendak di belinya Tadi.

Judul: Wayang Beber Pancasila
Karya: Antonius Janu Haryono

Deskripsi:

Wayang Beber Pancasila adalah film dokumenter yang mengangkat perjalanan Indra Suroinggeno dalam menciptakan Wayang Beber Pancasila, sebuah inovasi seni tradisional yang menggabungkan filosofi Nusantara dengan nilai-nilai Pancasila. Berbeda dengan wayang beber klasik yang mengisahkan cerita Panji, wayang ini menghadirkan kisah Sutasoma sebagai cerminan perjuangan mencari makna ketuhanan, toleransi, dan persatuan. Dengan menggunakan teknik kuno dalam pembuatannya, Wayang Beber Pancasila menjadi simbol bagaimana seni tradisi dapat terus berkembang tanpa meninggalkan akar budaya.
Setiap adegan dalam gulungan wayang menggambarkan prinsip-prinsip Pancasila, mengajarkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk bersatu. Dengan menyajikan perjalanan kreatif dan spiritual sang seniman, film ini mengajak penonton untuk merenungkan kembali esensi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Judul: Apem Pak Sugeng
Karya: Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto

Deskripsi:

Sugeng (62), seorang lansia, mengikuti sholat subuh berjamaah dan mendengarkan ceramah dari Gus Orza (30) tentang makna tradisi Megengan menjelang Ramadan. Ia diminta untuk membuat apem sebagai bagian dari tradisi tersebut. Saat menyiapkan adonan bersama cucunya, Nadjib (20), mereka kehabisan kelapa parut dan hanya menemukan santan kemasan (Santan Kara). Sugeng menolak menggunakannya karena khawatir mengubah tradisi serta cita rasa. Ketegangan meningkat saat Nadjib dan kakaknya, Mirna (25), mencoba meyakinkan Sugeng, hingga akhirnya mereka memanggil Gus Orza untuk membantu menyelesaikan perdebatan tersebut.

Judul: Screenplays Series Dagelan Jowo Lucu, Eposode: Keblinger
Karya: Endang Mulyamnningsih

Deskripsi:

Series komedi tentang warga desa, Gambas, Jilan dan Jiyo yang dijuluki “Kobis” karena ulahnya yang selalu membuat masalah di desa.

Skenario ini adalah karya kolaborasi dalam program pengabdian masyarakat dosen FSMR dengan warga RT.12 desa Pogung Dalangan Sleman untuk pengembangan media komunikasi sosial warga di YouTube.

PAMERAN VIRTUAL

FAKULTAS SENI MEDIA REKAM