Menyimak Narasi, Menyulam Realitas

Oleh: Riza Pahelvi, S.Tr.I.Kom., M.Sn.

Di setiap karya seni, selalu ada cara pandang yang lahir dari pergulatan. Delapan karya dalam pameran ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling menatap, saling menanggapi, dan mungkin juga saling bertanya. Mereka tumbuh dari konteks yang beragam: dokumenter sosial, eksperimen teknologi, fiksi politik, hingga pencarian spiritual di tengah alam. Tapi satu hal yang membuatnya serupa: keinginan untuk memahami dunia, bukan sekadar menampilkannya.


Pameran ini ingin mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk pikuk produksi visual yang serba cepat. Melihat karya bukan hanya sebagai hasil akhir, tapi sebagai proses berpikir dan merasakan. Di tangan para pembuatnya, seni menjadi alat untuk menafsir hidup, bukan hanya untuk memperindahnya.


Dalam Cerita Sepanjang Jalan dan Tari Angguk: Jejak Warisan Seni Pertunjukan Kulon Progo, kita diajak menatap ketekunan manusia. Satu tentang kasih seorang ibu yang berjuang di tengah rumitnya sistem kesehatan, satu lagi tentang pelestarian tari tradisi di antara perubahan zaman. Dua karya ini memperlihatkan bahwa ketabahan sering kali lebih berdaya dari kemewahan. Bahwa warisan tidak selalu datang dari hal besar, tapi dari keinginan sederhana untuk terus menjaga sesuatu agar tetap hidup.


Lalu ada Ikan Pangandaran dan Pari-Man si Anak Terkutuk, dua karya yang bermain di ruang kebudayaan populer. Satu memotret identitas lokal lewat bahasa media sosial, satu lagi menghidupkan kembali mitos masa kecil menjadi ikon baru. Dari keduanya kita belajar, bahwa tradisi bisa lentur. Ia bisa hidup di antara algoritma, bisa menyesuaikan diri tanpa kehilangan akar.


Dimensi eksperimental muncul dalam Eulogy, yang menjadikan teknologi Virtual Reality sebagai ruang kolaborasi dan partisipasi. Di sini, seni tidak lagi sekadar untuk dilihat, tapi untuk dialami. Penonton tidak hanya menjadi saksi, melainkan bagian dari pengalaman itu sendiri. Karya ini membuka ruang refleksi: bagaimana teknologi bukan musuh, melainkan jembatan menuju bentuk-bentuk baru dari kepekaan manusia.


Sementara 8 Hari dalam Seminggu dan Ocean Tribute mengembalikan kita pada relasi paling purba: manusia dan alam. Satu menunjukkan keluarga yang memilih hidup di hutan untuk menemukan kembali keseimbangan. Satu lagi memperlihatkan laut yang murka akibat apatisme manusia. Dua-duanya membawa pesan lembut tentang kesadaran ekologis, tentang spiritualitas yang tumbuh dari tanah dan air.


Sebagai penutup, Kronik Puriwicara menempatkan konflik keluarga kerajaan sebagai cermin kekuasaan dan moralitas. Perebutan kursi dan keyakinan di antara darah sendiri mengingatkan kita bahwa politik selalu berawal dari rumah, dari hubungan yang paling dekat dan paling personal.


Delapan karya ini, bila dilihat bersama, seperti peta kecil tentang zaman yang sedang berubah. Di dalamnya ada keresahan, kejujuran, nostalgia, juga keberanian untuk bereksperimen. Masing-masing karya berbicara dengan bahasa yang berbeda, tapi semuanya menandai semangat yang sama: seni sebagai cara untuk tetap waras, untuk tetap berpikir, untuk terus menyulam realitas agar tidak tercerai dari makna.

Yogyakarta, 15 Oktober 2025