Resonansi Fantasi dalam Kolaborasi
Oleh: Tegar Andito, S.Sn., M.Sn.
Secara leksikal, resonansi adalah fenomena yang terjadi ketika suatu objek atau sistem dikenai gaya atau getaran eksternal yang frekuensinya sesuai dengan frekuensi resonansi sistem, yang didefinisikan sebagai frekuensi yang menghasilkan respons amplitudo maksimum dalam sistem. Jika kata resonansi digunakan untuk menganalogikan hal yang terjadi dalam kolaborasi seni, maka resonansi ini dapat diartikan kolaborasi yang muncul karena suatu pengaruh positif. Kolaborasi di sini tidak hanya berupa kolaborasi dalam penciptaan suatu karya seni, namun juga kolaborasi yang muncul antara satu karya dengan karya yang lain.
Di dalam pameran ini terdapat 21 karya mahasiswa dan dosen serta 2 karya kolega Program Studi Animasi FSMR ISI Yogyakarta. Karya-karya yang ada bervariasi mulai dari film animasi, pengembangan karakter, uji layout adegan, hingga ilustrasi. Walaupun karya yang ada bervariasi, terdapat satu benang merah yang menjadikan karya-karya tersebut menjadi suatu bentuk kolaborasi, yakni tema fantasi.
Karya berjudul Samudramanthana dan Baroklinting Sang Pusaka adalah dua dari sumber gelombang yang menghasilkan resonansi yang menginspirasi karya-karya lainnya. Kedua karya ini merupakan proyek yang berkolaborasi dengan proses pembelajaran beberapa mata kuliah yang menerapkan sistem teaching factory (TeFa) di lingkungan Program Studi Animasi. Keduanya juga sama-sama mengangkat tema fantasi dengan corak cerita tradisi. Tema dan corak pada kedua karya ini menjadikan keduanya menghasilkan gelombang dengan satu frekuensi dan fase yang sama sehingga terjadilah interferensi yang menghasilkan amplitudo yang besar dan meresonansi mahasiswa, dosen, dan kolega untuk menciptakan karya dengan tema fantasi.
Suatu medium yang beresonansi akibat pengaruh suatu gelombang dapat dipastikan menghasilkan gelombang dengan frekuensi yang sama. Walau memiliki frekuensi yang sama, medium dengan materi dan sifat fisik yang berbeda akan menghasilkan bentuk gelombang yang berbeda ketika terjadi resonansi. Begitu pula dengan karya-karya Program Studi Animasi di pameran ini, mayoritas karya yang ada mengusung tema fantasi dengan coraknya sendiri-sendiri. Salah satu contohnya adalah karya berjudul Dunia Besar di Dalam Kamar Kecilku dan Mr.Sandman yang merupakan karya fantasi yang terinspirasi dari pengalaman pribadi sang seniman.
Contoh menarik lainnya adalah karya fantasi yang bercorak pengandaian yang diwakili oleh karya berjudul Pitaloka: Revenge of Bubat, Fan Meeting, dan Chainsaw Splash. Karya berjudul Pitaloka Revenge of Bubat menceritakan adegan yang mengandaikan tokoh Puteri Dyah Pitaloka yang alih-alih mengakhiri hidupnya di peristiwa Perang Bubat, ia justru melakukan balas dendam. Karya berjudul Fan Meeting dan Chainsaw Splash adalah dua karya fan art di mana seniman kedua karya ini mengandaikan tokoh yang mereka gemari dari karya lain yang pernah ada berada di situasi atau adegan berdasarkan fantasi dari mereka sendiri.
Keberagaman corak fantasi yang ada dalam karya-karya mahasiswa, dosen, dan kolega Program Studi Animasi ini tampil di pameran JMMK 2025 adalah resonansi yang muncul dari proyek-proyek yang pernah dilakukan.
Sleman, 15 Oktober 2025

